Rabu, 07 Oktober 2009

Kalimat-Kalimat tak Berharga

HeLLo my friends, hari ini aku memposting cerpen ku yang berjuduL "Kalimat-Kalimat tak Berharga" toLong dikomentari ya...

Pagi ini aku berangkat ke sekolah seperti hari-hari biasanya, dari memakai seragam sekolah hingga menghias diri serapi mungkin,.. kemudian aku pun segera berpamitan kepada kedua orang tua ku.

Setelah keluar dari rumah, aku berjalan kaki untuk beberapa saat menuju jalan raya, maklum saja rumahku cukup jauh dari jalan raya. Dengan segera aku pun menaiki sebuah angkutan umum yang sudah mulai penuh oleh pelajar-pelajar lainnya.

Tak lama kemudian angkutan mulai melaju ke arah timur. Di dalam angkutan itu hanya keheningan yang terdengar, karena tak betah dengan sepinya keadaan aku pun segera membuka pembicaraan dengan seseorang yang ada di sebelahku yang kebetulan juga salah satu siswa yang bersekolah sama denganku, angkatan yang sama namun berbeda kelas denganku.

" Hai, udah presentasi B.Inggris belum?" tanyaku tiba-tiba yang mungkin saja sedikit membuatnya terkaget.

" Belum " jawabnya kemudian.

Benar-benar jawaban singkat. Lagipula kenapa aku menanyakan pertanyaan yang hanya menghasilkan 2 jawaban, yaitu belum atau sudah [ seperti ya atau tidak ]. Menurutku pertanyaan barusan adalah salah satu dari beberapa pertanyaan bodoh yang pernah aku tanyakan.

Kemudian keadaan menjadi hening kembali. Yang terdengar hanya suara kendaraan bermotor yang ada di sekitar jalan raya .

Tak lama setelah itu angkutan menepi,  Hm... keheningan di dalam angkutan tadi membuat waktu berjalan terasa lambat. Akhirnya aku pun segera turun dan tetap merasa hening, perlu beberapa menit lagi untuk berjalan ke sekolah.

Sesampainya di sekolah aku lebih merasa hidup dan merdeka dari keheningan. Di dalam kelas aku bisa membicarakan berbagai hal yang menyenangkan dengan teman-teman sekelas, membicarakan banyak sekali yang bisa membuat kita seolah-olah terbebas dari mental bobrok feodalistis ala Belanda. Setelah berjam-jam berada di sekolah tak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Dan petualangan keheningan akan terjadi kembali.

Sepulang sekolah, tak jarang aku berjalan sendiri, karena kegiatanku cukup berbeda dengan teman-teman yang lain. Argghhh... kenapa Tuhan menciptakan keheningan?? Kenapa hati kecil kita hanya dapat didengar oleh kita sendiri. Padahal hati kecil ini sudah beratus-ratus kali meneriakkan kebenciannya pada keheningan yang membelenggu dalam jiwa.

Aku pulang dengan angkutan umum lagi, lebih tepatnya bis Armada Sakti dengan warna kebangsaannya, yang tak lain dengan warna hijau. Di dalam bis aku duduk dengan seseorang yang tak ku kenal, dia memakai seragam putih dengan bawahan abu-abu, dan seperti biasanya aku ingin merdeka dari keheningan, segera ku membuka pembicaraan.

" Baru pulang sekolah Kak? " tanyaku dengan nada agak ragu.

" Iya " Kakak itu menjawab sambil mengangguk.

Arggghhh, Tuhan! Pertanyaan bodoh lagi untuk yang kesekian kalinya. Semua orang juga pasti berpikir kalau anak muda yang pulang dengan memakai seragam kemungkinan besar baru pulang dari sekolah.

Aku terdiam memikirkan pertanyaanku barusan. Sekarang kembali pada jeratan keheningan, waktu yang terbuang percuma hanya untuk dialog kosong. Mungkin aku harus berpikir sekali lagi untuk mempertanyakan pertanyaan yang tak memiliki arti, kata-kata yang tak akan terkenang, dan tentunya Kalimat-Kalimat tak Berharga,..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar